Sunday, May 20, 2007

FenkTop become The F.L.I.P


Ini adalah suatu usaha. Berubah adalah termasuk hal yang paling menakutkan sehingga butuh suatu usaha yang lumayan keras untuk bisa mencapai sesuatu dengan berubah. Status Quo, ya manusia cenderung untuk mempertahankan status ini karena hal ini dirasakan lebih aman, walau bisa jadi kondisi itu adalah sebenarnya suatu kemunduran belaka. Tapi kalau dilihat dari cerita-cerita kesuksesan atau keberhasilan, semua adalah usaha merubah dari suatu kondisi ke kondisi yang baru, ada suatu pergerakan atau impuls yang diberikan sehingga sesuatu kondisi berubah, dan itu semua untuk suatu kemajuan atau kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Menurut agama pun suatu kaum akan berubah bila memang pengen berubah, bagaimanakah berubah itu? Harus dengan usaha dan juga doa. Dan mudah-mudahn tulisan ini adalah suatu doa..Amiin.

Congratulation The F.L.I.P

Change...Are You Scare of It?


Friday, March 02, 2007

The Story of "L" (part 1)


Kegelisahan suatu keharusan dalam mengarungi hidup yang begitu selalu tidak menentu. Penentuan arah dan pemilihan cara selalu menjadi bagian dari / harus menjadi bagian dari mahluk hidup yang namanya manusia, dan mungkin ini salah satu hal yang membedakan dengan mahluk lain. Dan hal ini selalu menjadi bagian yang paling sulit. Bayangkan bila dalam hidup tidak ada pilihan, tidak ada kegelisahan, mungkin hidup akan lebih monoton dan membosankan, bagaimana tidak, tujuan hidup kita adalah hanya untuk menunggu untuk mati.

Tapi tidak sedikit juga yang akhirnya menyerah terhadap hidup, dan bertanya-tanya untuk apa mereka dilahirkan untuk akhirnya dikecewakan oleh kehidupan. Kenapa harus mereka yang terpilih untuk mempunyai nyawa dari sekian juta sperma yang bertarung memperebutkan posisi di indung telur? Padahal mahluk – mahluk lain ciptaan Tuhan tidak ada yang sanggup untuk menjadi mahluk yang bernama manusia. Mungkin harus menjadi suatu kebanggaan bagi manusia sekaligus malapetaka. Dan orang-orang yang putus asa pun bisa mengambil langkah ekstrem untuk mensudahi penderitaan batin mereka. Nyawa yang dititipkan, mereka kembalikan ke pencipta-Nya.

“Bukan bunda salah mengandung..!”, memang bukan salah siapa pun atau kita tidak harus mencari – cari siapa yang harus bertanggung jawab dalam hal ini, walau kita ada yang dilahirkan memang karena diinginkan dan ada pula yang tidak sengaja harus hadir di bumi yang sudah tua ini. Kita tidak bisa menyalahkan orang tua yang menginginkan keturunan, di sisi lain apakah si anak punya pilihan? Segala sesuatu yang Dia ciptakan atau dihadirkan di alam semesta ini pasti ada maksudnya, termasuk kehadiran kita di muka bumi ini. Masalahnya mungkin segala “maksud” Tuhan ini biasanya tidak selalu mudah untuk didapat atau dimengerti oleh mahluk-Nya. Dia selalu memberi teka teki layaknya “big puzzle” yang harus diselesaikan oleh manusia. Memang hidup selalu menghadirkan pertanyaan yang harus coba dijawab ataupun ditebak. Dan salah seorang temanku bahkan mengistilahkan bahwa hidup adalah perjudian yang paling berat atau “The Great Gambling”, ya memang hidup layaknya bermain judi walaupun bermain judi di dunia nyata tetap dilarang.

Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam mengarungi hidup yang selalu menjadi pertanyaan baru, apakah memang hal-hal yang belum terjawab memang sudah direncanakan oleh Tuhan atau yang lebih sering disebut ditakdirkan. Dan kita selalu ditinggalkan lagi untuk menebak. Masa depan adalah hal yang tak pasti atau tidak menentu walau hidup itu sendiri adalah hal yang sangat pasti karena tidak sudah tidak dapat disangkal lagi. Layaknya seorang detektif, masing-masing dari kita harus menemukan petunjuk masing-masing untuk menjalani dan melanjutkan perjalanan hidup, dan ketika kita berhenti mencari petunjuk mungkin itulah awal malapetaka atau mungkin kita sudah merasa putus asa karena tidak juga menemukan jalan keluarnya.

Dalam “The Celestine Prophecy” atau manuskrip Celestine, diisyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi dengan kebetulan itu adalah pertanda yang mengarah ke suatu petunjuk dan akan terus bertemu dengan pertanda yang merupakan petunjuk selanjutnya. Segala sesuatu yang terjadi selalu ada maksudnya khususnya untuk kita, pelaku atau lakon pada kehidupan kita sendiri. Dan disebutkan selanjutnya bahwa kita akan mendapat pertanda tersebut bila kita memang sudah siap menerima petunjuk tersebut. Jadi hal yang wajib kita lakukan adalah bagaimana membuat diri kita siap untuk petunjuk selanjutnya. Permasalahannya apakah kita selalu tahu benar tentang kondisi kita sendiri? Kadang-kadang atau keseringan malah kita kurang yakin tentang kondisi kita sendiri, mungkin itu yang menyebabkan kita sebagai manusia butuh teman atau juga pasangan hidup, yang bisa merefleksikan diri kita atau sebagai cermin yang setidaknya bisa menjelaskan kondisi kita sebenarnya, mungkin.

to be continued...

Tuesday, December 19, 2006

For the last time...


Ini tentang waktu yg terlewat
Ini tentang waktu yg akan terbuang
Dan ini akan selalu tentang waktu yang kita habiskan

Waktu tidak akan pernah menghentikan langkahnya
Atau pun beristirahat sebentar
Waktulah yang membuat jaman
Waktulah yang membuat teknologi

Waktu adalah kesempatan
Kesempatan adalah memanfaatkan waktu
Waktu sebenarnya tidak akan pernah tua
Tapi jamanlah yang menua

Waktu juga berarti harapan
Atau lebih tepatnya harapan yang tersisa
Mengisi waktu juga berari mengisi harapan
Dan juga mewujudkan harapan

Waktu terkadang menjadi ancaman
Karena waktu ternyata ada akhirnya
Sehingga bila lengah memanfaatkannya
Maka hilanglah harapan yg terwujud

Keterbatasan mahluk adalah karena waktu
Waktu yang terbatas

Kini aku tidak ada waktu untuk memikirkan waktu
Aku ingin berlari walau yg sebelumnya merangkak

Thursday, October 05, 2006

The Silence of Patience


Sabar, kata yg sangat sering diucapkan dan terdengar sangatlah merdu
Dalam hampir setiap urusan, kata sabar selalu muncul dan layaknya mengisi tiap nadi kehidupan manusia yg terasa semakin keras saja…
Lajunya kehidupan sering selalu akhirnya memojokkan manusia, sehingga memaksa kata ajaib ini muncul, sabar…
Yah apa mau dikata, kata ini selalu muncul ketika sesuatu hampir mencapai jalan buntu atau mendekati titik keputusasaan…
Tapi sudah pasti kalau sabar adalah sebuah anugerah, atau bisa dibilang suatu fitrah manusia. Layaknya benteng yg kokoh, sabar membendung segala sesuatu yg mengarah ke penghancuran…baik pihak lain maupun diri sendiri
Dan jika sabar itu tidak ada, mungkin agama tidak akan ada dunia ini…
Mungkin jika manusia tidak sabar tidak akan ada ilmu pengetahuan dan teknologi, yang ada pasti adalah suatu penghancuran belaka…
Penantian selalu datang dari suatu pengharapan yg berusaha digenggam, dan sabarlah yg merekatkannya. Bila ia tak hadir maka perlahan namun pasti cengkraman genggam pun akan mengendor dan selanjutnya pasti akan terlepas begitu saja…
Takkan ada yg bisa menghalangi nasib, yg ada mungkin menghindar dari suatu kondisi, yg kebanyakan orang menyebutnya nasib. Tapi apakah itu titik akhir ketika kondisi tersebut disebut nasib. Yah nampaknya tidak ada yang pernah tahu. Karena ada seorang tua, yg berusaha bijak, berkata bahwa dia tidak percaya terhadap nasib, karena manusia lah yg menentukan nasibnya kalau dia mau…
Terkadang kita merasa sangat memiliki kemampuan untuk menghadapi, tapi sering juga akhrinya kita terpental kembali ke sudut keputusasaan…
Tetapi sesungguhnya sabar selalu didorong oleh suatu keyakinan yg besar akan harapannya dan hal itu yang melanggengkan kesabaran tersebut. Seperti salah satu baris syair dari lagu ‘patient’ yg dinyanyikan oleh Gun ‘N Roses, “…if I can’t have you right now, I’ll wait dear…”.
Sabar selalu identik atau lebih tepatnya terhubung dengan kata khusus yg lain, yaitu menunggu. Menunggu harapan tersebut menghampiri suatu kenyataan. Dan kata khusus tersebut adalah menunggu, jelas ini berhubungan juga dengan kata khusus yg lain, bosan…
Permasalahannya lagi, kata sabar sering hanya berkesan untuk sekedar menghibur. Walau sebenarnya sesuatu yg ditunggu itu mungkin tidak akan pernah datang. Dan yg harus dipertanyakan adalah layakkah hal itu harus ditunggu…
Bila ketetapan hati adalah suatu pencarian maka kesabaran adalah senjatanya.

Mungkin sabar seperti sebatang rokok kretek, yg pelan tapi pasti ia akan mencapai batas puntung sesuai isapan rokok yg begitu dalam…

Thursday, September 28, 2006

Trauma...


"Masa lalumu itu
Penjarakan asamu paksa dirimu
Duniamu pojokkan mu paksa dirimu berteriak...!"

Takkan hilang
Takkan bisa menghilang
Bila tersendiri…bantulah aku
Kuingin pulang
Ijinkanlah aku
Tuk kembali…bersamamu

(Hope Good Ramadhan)

Fenk 2006

Tuesday, August 22, 2006

Dan Semoga...


Angin layu merembah malam
Dingin tapi lunak, melunakan kekerasan siang
Asaku layu membeku
Kesadaranku mendera hatiku
Tak terlukis gejolak jiwa yg tak juga lunak oleh angin ini
Sungguh ingin kucari keramaian di keheningan sukma ini
Yg kutemukan hanya seonggok hati membiru kuyu
Dan kebisingan di otakku terus mencengkram
Hingga kepalaku makin terasa berat
Angin itu tetap berhembus dgn tenang
Tapi hatiku tak bisa bergeming
hanya rambutku yg tergerai panjang
Terayun halus seakan berusaha menghibur
Aku tak tahu apa yg bisa menghiburku
Jiwaku terasa lembam
Sukmaku yg biasa liar mengembara
Kini terpekur lugu di teras pengharapan
Aku pandangi langit, entah mengapa
Mungkin kesejukan langit bisa memberi suatu inspirasi
Atau juga bisa menghidupkan kembali asa yg lemah
Bisakah…
Atau lebih baik aku tundukan kepalaku ini saja
Dan kupejamkan mataku ini sampai kurasa kembali ketenangan bumi
Lalu kubisikan pada jiwaku, “belajar adalah proses dan proses adalah belajar”
Dan semoga jiwaku tetap bersabar…

Jam 03:40 dini hari
Senin, 10 juni’02

Sunday, August 20, 2006

PAGi iTu iNdAh..!!!


Orang memang sering berucap bahwa pagi itu indah, atau pagi ini sangat indah…dan pagi ini pun aku merasa menemukan pagi yang memang sangat indah! Walau entah untuk yang keberapa. Dan keseringan orang jarang memperhatikan lagi indahnya pagi, entah mungkin karena manusia sekarang telah kebanyakan kesibukan sesuai berkembang jaman. Dan karena berkembangnya jaman segala sesuatu menjadi berkurang, kebersihan dunia, kesejukan dunia, lahan bermain anak2, kesehatan, dan juga rasa-rasanya pagi mulai berkurang keindahannya. Tapi tunggu dulu, apakah karena memang keindahan pagi itu berkurang atau justru karena manusia sudah berkurang rasa tertariknya terhadap pagi sehingga keindahan pagi terasa hambar, biasa saja katanya.
Padahal pagi bisa mendatangkan kesejukan, ketenangan yg mungkin sudah sulit untuk sekarang mencarinya. Terkadang ada kesedihan di batin ini ketika hari mulai beranjak siang, yah siang, siang jelas akan mendatang terang yg lebih terang tapi keseringan bersama dengan hawa panas, hawa persaingan pun dimulai. Kalau boleh saya mengklasifikasikan hari, mungkin hari dibagi menjadi tiga bagian, pagi, siang dan malam. Siang jelas sifatnya sangat terbuka dan memungkinkan menjurus ke persaingan yang panas, malam mempunyai sifat yg lebih misterius, ada ketidakjelasan dan ketidakmenentuan di situ sehingga memungkinkan sesuatu yg rahasia. Lalu bagaimana dengan pagi, pagi mempunyai sifat yg tenang, sejuk, kadang tidak terlalu dingin dan juga tidak panas, boleh dibilang pagi memiliki sifat bijaksana.
Kebijakan pagi bisa membuat segar badan, kebijakan pagi bisa membuat pasti manusia untuk memulai sesuatu. Kebijakan pagi membuat yakin manusia bahwa waktu masih tetap berjalan dan dunia ternyata masih berputar.